Setelah 22 tahun Monas kembali dimandikan. Tapi dalam ‘ritual’ memandikan Monas ini emas di puncak sama sekali tak disentuh. Emas di Monas telah dimandikan secara alami oleh air hujan.

Omong-omong emas di puncak Monas, banyak cerita yang berkembang soal keberadaannya. Informasi yang beredar emas seberat 32 Kg itu sumbangan dari pengusaha Aceh. Namun di masa orde baru, pengusaha itu mendapat perlakuan tak layak.

Namun tak ada yang bisa memastikan soal ini. Sejarawan Asvi Warman Adam yang ditanya soal emas ini hanya bertutur, memang ada bantuan emas dari beberapa daerah di Indonesia saat pembangunan Monas. Namun siapa orangnya yang membantu, sejarawan LIPI ini tak tahu persis.

Kalau soal bantuan emas itu kan memang ada. Tapi kan dibelikan untuk pesawat terbang,” kata Asvi Marwan saat ditemui di Universitas Paramadina, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (7/5/2014). Ya (emas) yang untuk di Monas itu, itu memang untuk pesawat terbangnya ada itu. Sumbangannya ada juga dari Sumatera Barat, ada sumbangan itu. Setahu saya emas yang disumbangkan itu untuk pesawat terbang,” paparnya lagi.

Sedikit kilas balik tentang emas tersebut. Menurut Rini, bobot emas di puncak Monas awalnya 32 kilogram. Namun sekarang bertambah jadi 50 kilogram. Penambahan itu ada ceritanya. Demi merayakan ulang tahun emas Repulik Indonesia pada 1995, pemerintah saat itu menambah jumlah emas agar genap 50 kilogram.

Sejarah Teuku Markam

Sejarah mencatat, tumbangnya pemerintahan Soekarno dipenghujung akhir 1965 menyisakan berbagai cerita tragis. Pelan namun pasti, kekuasaan sah Soekarno dan orang-orang terdekatnya ‘dipreteli’ oleh Soeharto, yang kemudian berakhir dipenjara maupun dihilangkan secara paksa. Satu diantaranya adalah sosok pria asal Aceh yang bernama Teuku Markam. Sosok pria kaya raya dari bumi Serambi Mekkah, yang nasibnya berakhir nestapa.

Ini adalah cerita tentang Teuku Markam, salah satu orang terkaya di Indonesia yang di akhir hayatnya bernasib tragis. Pernahkah Anda bertanya-tanya, siapa sosok yang menyumbang emas Monumen Nasional yang ada di Jakarta itu? Dari 38 kg berat emas monas, 28 kg-nya ternyata disumbang oleh putra Aceh bernama Teuku Markam itu. Bisa dibilang, Markam punya jasa besar terhadap perkembangan ekonomi di Indonesia. Dari beberapa sumber disebutkan, Markam merupakan seorang pengusaha kaya Aceh pada zaman pemerintahan Presiden RI Soekarno.

Di tugu raksasa berbentuk Lingga-Yoni bernama Monumen Nasional (Monas), yang paling menggiurkan dari bangunan itu adalah pucuknya yang berbentuk nyala api dan terbuat dari emas. Muasal emas itu, seperti banyak disebut di dunia maya, konon berasal dari seorang pengusaha Aceh bernama Markam. Ia pengusaha kaya di era Sukarno. Benar tidaknya soal emas dari Markam itu, ia tetap saja sosok menarik dalam sejarah Indonesia.

Laki-laki kelahiran Panton Labu, Aceh Utara, 12 Maret 1924 ini, tak sempat lulus SD. Markam hanya sekolah hingga kelas lima. Dia anak bandel dan jarang masuk sekolah ketika masih bocah. “Paling dua kali seminggu,” aku Markam di buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983-1984 (1984: 473).

Ayahnya khawatir sekolah formal ala Barat akan membuat si anak jadi kafir. Di buku tersebut, Markam mengaku masuk Heiho (pembantu tentara) di zaman Jepang dan dapat pangkat setara letnan dua. Ia juga mengklaim dirinya ditempatkan di Manila, Filipina. Waktu Proklamasi 17 Agustus 1945 dibacakan, Markam sedang berada di Singapura. “Dari sana saya menyelundupkan senjata ke Pekanbaru, untuk perjuangan,” kata Markam (hlm. 473).

Sebagai mantan Heiho, dia dianggap punya pengalaman militer. Sebagai penyelundup untuk kepentingan Republik, Markam pun diberi pangkat militer. Di masa revolusi, orang seperti dirinya bisa menjadi letnan, sekali pun tidak lulus SD. Dia terus berdinas di militer setidaknya setelah Belanda angkat kaki pada 1950. Pangkatnya sudah kapten di tahun 1950-an dengan NRP 12276. Dia hengkang dari militer setelah berseteru dengan atasannya yang berpangkat mayor. Markam pun melapor kepada Kolonel Gatot Subroto untuk minta berhenti pada 1957 lantaran tidak sudi harus terus memberi hormat kepada mayor tersebut.

Keluar dari dinas militer, Markam pun terjun ke dunia usaha. Dia mendirikan pabrik kulit bernama Karkam, singkatan dari Kulit Aceh Raya Kapten Markam dan terlibat dalam proyek pemindahan ibukota provinsi Riau dari Tanjung Pinang ke Pekanbaru. Namanya melejit sebagai pengusaha yang dekat dengan Presiden Sukarno. Dalam hal ini, ia mirip dengan pengusaha yang lebih senior, Agoes Moesin Dasaad.

Teuku Markam

Nasib Apes Setelah Sukarno Tumbang

Dari orang yang kurang dikenal, Markam kemudian sohor di kalangan jetset Jakarta. “Markam adalah seorang Letnan tak dikenal, yang mendirikan perusahaan Karkam,” tulis Masashi Nishihara dalam Sukarno, Ratna Sari Dewi dan Pampasan Perang (1994: 204).

Kekayaannya melonjak dengan cepat dalam tiga tahun. Lonjakan itu didapat dari hak eksklusif mengekspor karet ke Malaysia dan Singapura di masa konfrontasi.“Wajahnya cukup dikenal di pesta-pesta yang diadakan di Istana Sukarno dan merupakan peserta lelang yang dermawan dalam lelang tertutup yang diselenggarakan di istana,” tulis Nishihara (hlm. 204-205).

Ketika Ibu Pertiwi “hamil tua” di tahun 1965, Markam kecipratan proyek dari Presiden. “Bulan maret 1965, dia berjumpa dengan Sukarno, yang selaku Komandan Komando Tertinggi Operasi Ekonomi mengesahkan impor Markam atas sejumlah besar jip Nissan, suku cadang, semen Asano dari Jepang,” lanjut Nishihara (hlm. 204-205).

Sudah tentu Markam kena sial setelah Sukarno lengser. Sebagai orang yang dicap Sukarnois, Markam ditangkap bersama Subandrio, Sabur, juga Jusuf Muda Dalam.

Dalam persidangan Jusuf Muda Dalam, Markam dihadirkan sebagai saksi. Meski sama-sama orang Aceh, seperti ditulis di buku Anak Penjamun Di Sarang Perawan (1966) yang disusun Effendy Sahib, Markam mengaku dalam persidangan bahwa dirinya tidak kenal lama dengan Jusuf. Ia baru kenal dengan Jusuf ketika yang bersangkutan jadi Presiden Direktur Bank Negara Indonesia (hlm. 94).

Soal Deferred Payment khusus yang diberikan pada Markam, hakim bertanya, “Sesudah Jusuf Muda Dalam jadi Menteri Bank Sentral, apa saudara memperoleh Deferred Payment khusus?” Markam menjawab pernah. Tapi ketika hakim bertanya bagaimana Markam mendapatkannya, Markam menjawab: “melalui Pak Adam Malik.” Belakangan, Adam Malik adalah orang yang menjadi Menteri Luar Negeri lalu Wakil Presiden RI di masa Soeharto.

Markam menjalani masa penjara sekitar 9 tahun, sejak 23 Maret 1966 hingga sekitar 1975. Menurut catatan buku Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani (2001) yang disusun Benedicta A. Surodjo dan J. M. V. Soeparno, Markam ditahan bersama Mohamad Aslam, seorang pengusaha yang juga jaya di masa Sukarno (hlm. 156). Setelah ditahan di Rumah Tahanan Militer Boedi Oetomo, keduanya dipindah ke Nirbaya. Di penjara itu, Corps Polisi Militer menjaga mereka.

Setelah bebas, Markam terjun kembali ke dunia usaha dengan mendirikan perusahaan kontraktor bernama PT Marjaya. Di perusahaan itu, ia menjabat Presiden Komisaris. Proyek terbesar yang digarap PT Marjaya adalah pembuatan jalan di Lhokseumawe, Aceh, dan di Cileungsi, Jawa Barat.

Markam tutup usia di awal 1985. Dia meninggal karena penyakit liver dan gula. Dalam banyak sumber tertulis, Markam hanya disebut sebagai pengusaha. Sulit menemukan catatan yang menegaskannya sebagai penyumbang 28 kg emas untuk pucuk Monas.

Demikianlah artikel tentang perjalanan hidup dari Teuku Markam. Semoga artikel di atas bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi Anda. See you next time.