Kenakalan remaja adalah suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan, atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau transisi masa anak-anak ke dewasa. Kenakalan Remaja merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial yang pada akhirnya menyebabkan perilaku menyimpang. Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma dalam masyarakat, pelanggaran status, maupun pelanggaran terhadap hukum pidana.

Pelanggaran status seperti halnya kabur dari rumah, membolos sekolah, merokok, minum-minuman keras, balapan liar, dan lain sebagainya. Pelanggaran status ini biasanya tidak tercatat secara kuantitas karena bukan termasuk pelanggaran hukum. Sedangkan yang disebut perilaku menyimpang terhadap norma antara lain seks pranikah di kalangan remaja, aborsi, dan lain sebagainya.

1. Pendalam agama yang diyakini

Sejak lahir yang telah dimiliki ialah agama yang terbawa sejak dalam kandungan Ibu dan juga sesuai dengan agama orang tua. Agama adalah suatu pondasi paling dalam untuk menjalani kehidupan yang terus berjalan. Tanpa agama, seseorang dapat kehilangan arah tujuan hidup dan tak mengerti akan kemana arahnya.

2. Jaga lingkup pergaulan

Kini, lingkup pergaulan sudah terjalin luas dan dapat terjalin antar belahan benua satu dengan belahan benua lainnya. Seperti contoh seseorang dapat berkomunikasi atau bahkan memiliki keakraban dengan seseorang beda negara. Pergaulan yang terlalu luas dan bebas juga menjadi sebab dari fenomena janggal ini. Pergaulan menjadikan mereka tak peduli dengan agama.

Faktor Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja itu terjadi karena beberapa faktor, bisa disebabkan dari remaja itu sendiri (internal), faktor dari luar (eksternal), faktor sosial dan juga faktor budaya.

Faktor Internal

Krisis identitas : Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.

Kontrol diri yang lemah : Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku “nakal”. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pegetahuan.

Faktor Eksternal

Keluarga dan perceraian orang tua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.

Faktor Sosial Pergaulan

Teman bergaul sangat mempengaruhi moral seseorang, karena teman yang baik akan menularkan sesuatu yang baik, sedangkan teman yang buruk akan menularkan sesuatu yang buruk. Teknologi manusia yang semakin berkembang memang sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari. Memang banyak segi positifnya, tetapi juga ada segi negatifnya, ini tergantung dari bagaimana seseorang menyikapinya. Salah satu contoh sisi negatifnya di sini adalah internet dan teknologi mobile, di mana keduanya memfasilitasi pembukaan dan pendownloadtan pornografi dan pornoaksi, memperbesar peluang penipuan.

Faktor Budaya

Perlu diketahui bahwa budaya Indonesia sudah tercampuri dari sekian banyak budaya luar, ada kalanya budaya itu baik, dan ada kalanya budaya itu buruk. Tetapi mau tidak mau budaya-budaya itu sudah melekat di masyarakat Indonesia sendiri. Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku nakal. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

0leh karena itulah, anda harus melakukan pendekatan yang baik, berilah nasehat dengan lembut bahwa apa yang dilakukannya itu tidak baik. Selain itu, anda sebagai orang tua juga harus menjaga kekonsistenan. Buatlah peraturan khusus yang sebelumnya telah dibicarakan terlebih dahulu dengan anak-anak anda. Peraturan yang anda buat harus memiliki konskuensi supaya anak dapat berusaha menghindari perbuatan nakal tersebut.

Semakin anda sabar maka anak-anak anda akan semakin mudah untuk dikendalikan. Jangan lupa untuk selalu memberlakukan peraturan yang sudah anda buat supaya anak mengingat batasannya. Selain itu, anda harus selalu memberikan anak penghargaan pada saat anak melakukan hal-hal yang baik, seperti memberi pujian kepadanya.

Ketika anak anda nakal dan bandel, maka anda sebagai orang tua janganlah sekali-kali memberikan label yang buruk pada mereka. Sebagai contoh “kamu anak yang nakal, bandel, susah diatur.” Justru pemberian label itu akan menjadikan anak semakin nakal, dia beranggapan bahwa sifat nakal yang dimiliki adalah karakternya, sehingga akan menyusahkan anda sebagai orang tua untuk mendidiknya. Pernah ga ditegur guru gara-gara sering datang sekolah terlambat? Teguran itu bukan tanpa alasan. Dalam kehidupan, budaya disiplin sangat penting, apalagi di dunia kerja.