Kisah menyeramkan dukun AS pernah diterbitkan di majalah Intisari edisi Juli 2017 dengan judul “Demi Ilmu Sakti, Suradji Membunuh 42 Wanita di Ladang Tebu”

Terpidana mati Ahmad Suraji alias Dukun AS alias Nasib Kelewang sudah dieksekusi. Hasil otopsi pada jenazah terpidana mati menunjukkan Dukun AS tewas karena dadanya ditembus tiga peluru yang ditembakkan tim eksekusi Brigadir Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara (Sumut).

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumut Gortap Marbun menyatakan, ketiga peluru itu bersarang pada dada sebelah kiri, yakni jantung.

“Tim eksekusi sengaja memilih sasaran yang mematikan, tepat di jantung,” kata Gortap Marbun kepada wartawan, Jumat (11\/7\/2008) di Gedung Kejati Sumut, Jl. AH Nasution, Medan.

Gortap Marbun enggan menyebutkan dengan pasti di mana eksekusi dilaksanakan. Dia hanya menyatakan, lokasinya berada di kawasan perkebunan karet di Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Dukun AS menghembuskan napas terakhir sekitar pukul 22.00 WIB Kamis 10 Juli.

Usai dieksekusi, kata Gortap, jenazah Dukun AS kemudian dibawa ke RSUD Deli Serdang di Lubuk Pakam untuk menjalani proses otopsi. Setelah itu, jenazah Dukun AS dimandikan, dikafani, dan disalatkan.

Jenazah Dukun AS langsung dikebumikan pada Jumat dinihari atas pemintaan keluarga. “Prosesi penguburan kita serahkan kepada Camat Sei Semayang,” kata Gortap.

Terungkapnya kasus penculikan HS (28), warga Desa Bajungan, Kecamatan Galang, Sulawesi Tengah, yang sempat hilang selama 15 tahun tengah menjadi pembicaraan hangat.

Apalagi setelah diketahui pelaku penculikannya adalah seorang dukun bernama Jago yang tak hanya menyembunyikan Hs di balik celah batu, tapi juga menjadikan Hs sebagai budak nafsunya.

Malam yang pekat dan gelap. Dalam tidur malamnya, Ahmad Suradji bermimpi didatangi mendiang ayahnya – kemungkinan besar iblis yang menyaru. Dia mendapat bisikan gaib, akan diwarisi sebuah ilmu yang mahasakti.

Katanya, ilmu ini tak terkalahkan. Sebuah kesaktian yang bisa digunakan untuk mengalahkan lawan sekaligus menolong dan mengobati orang. Katanya, syaratnya tidak main-main. Supaya bisa menguasai ilmu ini secara sempurna, Suradji mesti menumbalkan 72 nyawa wanita. Salah satu prosedur wajibnya dengan menghisap air liur mereka.

Suradji bimbang, namun hasrat memiliki ilmu yang mandraguna begitu menggelora. Apalagi ilmu ini juga bisa dipakai untuk menolong orang. Dalam batinnya, akhirnya muncul kesimpulan, tak ada salahnya mengorbankan sejumlah nyawa untuk kebaikan yang lebih besar.

Haogoaro Harefa, hakim ketua yang memimpin jalannya persidangan pada 24 April 1998 tersebut memutuskan perkara dengan mantap. Gemuruh tepuk tangan para hadirin pun langsung memadati ruang sidang. Sementara terdakwa yang bernama Suradji tampak tenang usai vonis dibacakan. Bahkan, beberapa kali ia tertangkap melempar senyum ke arah juru warta, seolah vonis tersebut bukan perkara serius.

Bagi warga Sumatera Utara, Suradji bukan sembarang orang. Ia, yang biasa akrab disapa Dukun AS, adalah tersangka pembunuhan berantai dengan korban tewas sebanyak 42 orang. Semua korbannya adalah perempuan.

Aksi keji itu ia lakukan dalam kurun waktu 1986-1994 di Desa Sei Semayang, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang. Motif pembunuhan didasari klaim Suradji atas wangsit dari mendiang ayah yang memerintahkannya untuk membunuh 70 perempuan agar jadi sakti mandraguna.

Ahmad Suraji alias Dukun AS

Klenik Sejak dalam Pikiran

Seperti halnya Robot Gedek yang pernah bikin geger Jakarta dua dekade silam, penampilan dukun AS tak terlihat kontroversial. Ia kurus, jangkung, dan orang-orang mungkin lebih mengira ia sebagai pegawai kelurahan dibanding kriminal.

Sebagaimana ditulis majalah Intisari edisi 2017, Suradji dibesarkan oleh pasangan Jogan dan Sartik. Sang ayah, yang berprofesi sebagai dukun, meninggal kala ia baru berusia tujuh bulan. Masa kecilnya hampir sama dengan anak-anak desa pada umumnya; bermain dan berlarian di ladang.

Di lingkungan tempatnya bermukim, Suradji lebih dikenal dengan nama “Nasib Kelewang”—nama yang disematkan karena ketika kecil ia pernah tercebur sumur dan selamat. Menurut pengakuan ibunya, selain bermain di ladang, Suradji juga tertarik mempelajari ilmu dukun sejak umur 12 tahun lewat buku-buku peninggalan sang ayah.

Hidup Suradji berubah 180 derajat saat ia memutuskan untuk berpoligami. Tak tanggung-tanggung, menurut Intisari, Suradji menikahi dua perempuan sekaligus yang semuanya masih punya pertalian saudara dengan istri pertamanya, Tumini. Suradji menikah lagi dengan alasan ingin punya anak perempuan, sesuatu yang tidak didapatkannya bersama Tumini.

Pada saat bersamaan, Suradji kian getol menyelami lautan klenik. Ia mengaku bahwa dalam mimpinya, sang ayah kerap datang dan mengajarinya berbagai ilmu kesaktian. Terlepas apakah Suradji betulan sakti atau tidak, masyarakat setempat menganggap dirinya “orang pintar” alias dukun. Di rumahnya, Suradji melayani bermacam jenis jasa, mulai dari mengobati orang sakit hingga pasang susuk.

Dalam laporan Intisari dijelaskan bahwa penemuan tersebut berangkat dari informasi seorang pemuda lokal yang tanpa sengaja mendapati mayat tanpa busana di ladang tebu. Korban bernama Sri Kemala Dewi. Mulanya polisi mengira pelaku pembunuhan adalah suami Dewi sendiri. Sebab, menurut keterangan warga, keduanya sempat terlibat pertengkaran pada malam sebelum Dewi menghilang.

Akhirnya, seorang warga bernama Andreas mengaku pernah mengantarkan Dewi ke rumah Suradji guna melakukan konsultasi. Polisi lantas menindaklanjuti keterangan Andreas. Datanglah mereka ke rumah Suradji. Saat ditanya polisi, Suradji mengaku Dewi memang mengunjungi rumahnya. Namun, terang Suradji, “Dewi pulang selepas Maghrib.”

Pengusutan kasus sempat terhenti karena bukti-bukti yang ditemukan tak cukup. Tapi, polisi tak kehilangan akal. Mereka kemudian mendalami sejumlah laporan orang hilang dalam beberapa tahun terakhir. Dari hasil pendalaman ditemukan satu benang merah: sebagian besar korban adalah pasien Suradji.

Temuan tersebut mendorong polisi untuk kembali mendatangi rumah Dukun AS. Satu per satu sudut rumah disisir secara seksama. Akhirnya polisi menemukan beberapa helai pakaian perempuan dan perhiasan. Barang bukti itulah yang membuat Suradji ditangkap. Dalam proses interogasi, Suradji mengaku bahwa ia yang membunuh Dewi dan 41 perempuan lainnya demi “memperoleh ilmu sakti.” Tak cuma menghabisi nyawa, Suradji juga menyikat barang-barang berharga milik korban.

Ahmad Suraji alias Dukun AS1

Takut, Tobat, Sebelum Akhirnya Ditembak di Tempat

Kehidupan penjara turut mengubah perilaku Dukun AS.  Setelah itu Dukun AS telah “bertobat dan membuang semua ilmu kebatinan yang dimilikinya” selama ditahan. Dukun AS diberi penjelasan dari segi agama bahwa ilmunya tersebut dapat mempersulit dirinya ketika dijemput ajal nanti. Nasihat tersebut diterima Dukun AS sehingga terpidana mati itu segera membuang ilmu kebatinan yang dimilikinya,” kata Ali Nafiah Nasution, pekerja dari Yayasan Pendidikan Intensif Agama Islam (YPIA) Medan

Sejak “membuang kleniknya,” lanjut Nafiah, Dukun AS rajin mengikuti pengajian yang diselenggarakan dua kali sebulan di LP Kelas I Tanjung Gusta Medan. Senada dengan Nafiah, Kepala LP Kelas I Tanjung Gusta Medan, Ace Hendarmin, juga menyebut Dukun AS “sudah tobat” dan “punya aktivitas ibadah yang luar biasa”.

“Jika napi lain langsung keluar mushola setelah sholat, Dukun AS akan berdiam diri untuk berzikir dalam waktu yang cukup lama,” terangnya.

Di tengah pertobatannya itu, Dukun AS sempat merasa tertekan setelah mengetahui rencana Kejaksaan Tinggi Sumut yang akan melaksanakan eksekusi mati terhadap dirinya. Kabar tersebut membikin Dukun AS stres mengingat, catat Gatra, ia masih mengharap diberi grasi oleh presiden sebab “sudah memperlihatkan perubahan baik dalam penjara.”

Setelah divonis mati oleh Pengadilan Negeri Lubuk Pakam, Deli Serdang, kuasa hukum Dukun AS mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung tiga tahun kemudian. Upaya kasasi itu ditolak. Pada 2004, dibantu Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Dukun AS melayangkan grasi ke presiden. Hasilnya: grasi ditolak pada 27 Desember 2007.

Demikianlah artikel tentang Dukun AS yang mungkin belum Anda ketahui. Semoga artike di atas bermanfaat ya. Sampai jumpa pada artikel selanjutnya.